logo

Pasca Hari Lansia Nasional : Memahami dan Membahagiakan Lansia

Pasca Hari Lansia Nasional :  Memahami dan Membahagiakan Lansia

Akhir Mei lalu kita memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN), tepatnya 29 Mei 2017. Hari itu diperingati sebagai rasa hormat generasi muda terhadap penduduk lanjut usia (lansia), sekaligus upaya mengembangkan kesadaran bagi penduduk pada umumnya dan pejabat khususnya bahwa jumlah dan masalah penduduk lansia di Indonesia de
11 June 2017 14:32 WIB

Oleh: Haryono Suyono

Perkembangannya pun setiap tahun dengan kecepatan yang sangat tinggi pula. Jika pada tahun 1970 jumlah penduduk lansia hampir mencapai 2 juta jiwa, pada tahun 2017 ini telah meningkat lebih dari 15 kali lipat, suatu kejadian yang sangat menarik. Berkembangnya penduduk lansia di Indonesia, seiring dengan perkembangan pelayanan kesehatan di yang makin maju dan bertambah baik.

Dulu penduduk Indonesia mudah meninggal dunia sebelum menjadi lansia, karena penyakit infeksi biasa seperti batuk, pilek dan lainnya. Dewasa ini, termasuk anak-anak, tidak mudah meninggal dunia karena penyakit itu. Para dokter dan fasilitas kesehatan yang tersebar luas di seluruh pelosok dapat mengatasi penyakit itu. ,

Namun, sifat dan tingkah laku hidup yang makin makmur, membuat penduduk Indonesia bisa menikmati makanan yang terasa lezat. Secara tidak sadar mengantar bahan-bahan kimia, yang bisa merangsang munculnya radikal bebas, yang ganas mengganggu keseimbangan sel tubuh normal dan menimbulkan penyakit degeneratif. Seperti diabetes, jantung dan lainnya yang membawa kematian.

Tidak seimbangnya radikal bebas itu dipengaruhi pula oleh adanya polusi, kebiasaan merokok, minuman keras dan pola hidup yang tidak teratur. Karena, pengaruh lingkungan yang sering merangsang tetapi membuat hidup tidak tenteram.

Karena jumlah lansia yang melimpah itu, biarpun terganggu oleh adanya pola makan, pengaruh pola hidup dan perubahan lingkungan, masih tersisa ruang yang luas. Alhasil, masa hidup sebagai lansia masih jauh lebih panjang dibanding masa lalu. Usia harapan hidup yang belum lama ini hanya sampai sekitar 50 tahun, kini melompat jauh di atas angka 70 tahun.

Perbedaan wilayah dan pelayanan untuk hidup sehat dan bahagia berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain, membuat perbedaan usia harapan hidup satu daerah dan daerah lainnya juga sangat tinggi. Ada daerah yang usia harapan hidupnya masih pendek, ada pula yang usia harapan hidupnya jauh melampaui angka 75 tahun. Karena itu, ada daerah-daerah yang memiliki penduduk usia di atas 80 tahun, 90 tahun, bahkan ada daerah yang mencatatkan diri sebagai wilayah dengan penduduk di atas usia 100 tahun.

Suatu hal yang hampir tidak ada di masa lalu. Karena kejadian itu masih dianggap langka, banyak pemerintah daerah tidak sadar bahwa pelayanan terhadap kebutuhan lansia harus secara fisik, dalam jumlah besar dengan kecepatan perluasan yang lebih tinggi disediakan. Begitu juga pelayanan untuk keluarga dengan penyakit degeneratif, yang dulu hanya dialami oleh penduduk lansia, sekarang harus pula diperhatikan bisa terjadi pada anak muda.

Ciri-cirinya, tingkah laku hidup yang terganggu keseimbangan sel-sel dalam tubuhnya oleh radikal bebas, yang berasal dari luar atau yang diolah dari dalam tubuh. Akibat masukan makanan dan minuman yang mendorong munculnya radikal bebas, yang berlebihan dan liar.

Berbagai persoalan itu, membuat pengertian dan perhatian terhadap hidup juga makin berubah, dengan mendahulukan kebahagiaan dibanding kesehatan. Pola pengertiannya adalah hidup yang bahagia, sehat dan sejahtera.

Pola ini pada tingkat internasional telah menghasilkan indikator kebahagiaan yang makin mendunia dan menjadi ukuran melebihi indikator seperti Human Development Indeks. Yang selama ini kita kenal, atau juga indikator kekayaan yang dulu disebut personal income atau national income. Pada tatanan makro ukuran-ukuran yang sekarang beredar, untuk suatu kelompok lansia biasanya sulit dicerna. Sebab, bersifat ukuran indeks yang menggabungkan variabel-variabel tertentu menjadi indikator gabungan.

Karena sifatnya gabungan, maka tidak mudah seseorang atau suatu kelompok orang, untuk secara tepat menangani persoalan yang dihadapi oleh suatu kelompok masyarakat atau suatu individu tertentu. Untuk mengubah dari suatu keadaan kurang bahagia dan sejahtera. Karena itu dibutuhkan proxy, yang memberikan ukuran kasar, yang diwakili oleh variabel-variabel yang sifatnya mutable atau bisa diubah oleh aktor yang bersangkutan.

Variabel-variabel mutable itu memang sukar untuk disebut secara umum, karena berbeda untuk satu manusia dengan manusia lain, berbeda untuk kelompok etnis atau kelompok asal usul lainnya. Minggu lalu, kami ambil sampel secara acak lima orang dari sekitar enam puluh ibu bapak lansia, di Sasana Tresna Werdha (STW) yang dikelola oleh Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan di Cibubur Jakarta.

STW ini telah berusia puluhan tahun dan dikelola oleh Tim Pengelola yang sangat profesional. Tim Pengelola dibantu oleh Tim Perguruan Tinggi, yang menempatkan dosen pembimbing dan beberapa mahasiswa hampir-hampir sebagai staf tetap di dalamnya. Tim yang diperbantukan itu, sering dikawal langsung oleh Dekan dari berbagai Fakultas yang mengirim mahasiswanya.

Seakan seperti mahasiswa yang melakukan kuliah kerja nyata di pedesaan. Mereka tinggal bersama dengan lansia yang dibinanya, sehingga mengetahui dengan pasti kondisi kesehatan dan sosial lansia yang dibinanya setiap hari. Tidak jarang, mereka menjadi sangat bersahabat seakan seperti orang tua mereka sendiri.

Karena itu, hampir semua ibu bapak lansia yang ditanya dengan santai dalam pertemuan silaturahmi, yang akrab merasa nyaman karena keakraban pendamping sehari-hari yang tidak mengeluh, biarpun mungkin gajinya tidak seberapa. Mereka merasa nyaman karena adanya mahasiswa dan dosen, yang setiap kesempatan bisa menjawab keluhan yang disampaikan.

Acara setiap hari berganti, sehingga biarpun ruang gerak hidup mereka sangat terbatas, tetapi jauh lebih menarik dibanding hidup di apartemen atau rumah mewah yang dimilikinya sebagai hasil kerja keras di masa muda. Seorang ibu yang memiliki apartemen dan rumah mewah lengkap dengan televisi besar di rumahnya, tetapi suami sudah meninggal dunia dan tidak dikaruniai anak, jauh dari saudara karena sibuk dengan anak dan keluarga serta pekerjaan sehari-hari, dengan senang hati menyewakan apartemen dan rumahnya serta menggunakan dana itu untuk tinggal selama beberapa tahun ini dalam STW, yang relatif lebih sederhana.

Baginya kebahagiaan yang didapat dari lingkungan yang ada jauh lebih baik dibanding tontonan TV yang tidak bisa dipilih sesuai keinginan atau isi siarannya makin tidak menarik. Di STW ibu itu merasa hidup lebih bahagia karena kasih sayang, yang diramu dengan sentuhan hati dan perasaan bersama, yang bergelora setiap hari di sekitarnya.

Ada lagi kebahagiaan lain yang dirasakan oleh salah satu lansia, yang menyatakan bahwa anak dan cucu tempat tinggalnya semua sibuk luar biasa. Sehingga, hidup terasa sepi dalam keramaian. Tidak pernah bisa menonton TV menurut pilihannya, karena “wajib” mengalah pada anak cucu yang pilihannya berbeda.

Kesempatan untuk saling dialog hampir tidak ada, karena seluruh anak dan cucunya sudah kecanduan alat elektronik hp, yang tidak pernah lepas dari tangannya. Biarpun sama-sama di satu meja makan, setiap orang hidup dalam dunianya sendiri. Kesepian dalam keramaian dan kemewahan rupanya bukan kebahagiaan yang dicitakannya.

Prof. Dr. Haryono Suyono, Penasehat Anugerah

Budi Seno P Santo
Wartawan Suara Karya sejak tahun 2005. Pernah meraih penghargaan jurnalistik M Husni Thamrin Award tahun 2008
Editor : Gungde Ariwangsa SH
header-ad