logo

Penglipuran, Desa Wisata Penjaga Konservasi

Penglipuran, Desa Wisata Penjaga Konservasi

Desa Penglipuran di Bangli, desa wisata yang masih mempertahankan kearifan lokal (foto: Endang Kusumastuti)
Masyarakat di sini masih memegang tradisi adat, jadi desa ini sudah tertata seperti ini sejak jaman dahulu. Baru tahun 1998, pemerintah menetapkan Desa Penglipuran sebagai desa wisata," jelas pengelola Desa Penglipuran, I Nengah Moneng.
19 May 2017 09:52 WIB

SOLO (Suara Karya): Desa Penglipuran yang terletak di Kabupaten Bangli, Bali, masih menjunjung tinggi budaya dan kearifan lokal dalam tatanan kehidupan penduduknya. Desa yang dihuni sekitar 240 Kepala Keluarga (KK) itu, hingga saat ini masih patuh terhadap aturan dewan adat setempat.

Di antaranya bangunan rumah harus menggunakan atap dari sirap bambu. Bagi masyarakat Bali, bambu tidak boleh dilepaskan dari kehidupan mereka. Rumah-rumah warga dibangun dalam dua jajaran barat dan timur yang dipisahkan oleh jalan desa. Tidak boleh ada kendaraan yang melintas di jalan desa tersebut. 

"Sejak jaman dahulu kami menggunakan konsep tri mandala, atau tiga zona untuk pembangunan desa. Mandala utama adalah bangunan pura untuk bersembahyang, mandala madya adalah kawasan rumah-rumah penduduk, dan mandala nista tempat bagi manusia yang sudah meninggal," jelas Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bangli, Bali, Ida Bagus Gde Giri Putra, saat menerima kunjungan dari puluhan wartawan dan Humas Protokol Pemerintah Kota Solo, Jawa Tengah, Selasa (16/5).

Dalam tatanan kehidupan masyarakat Desa Penglipuran, mereka sangat menghargai pernikahan. Jika ada warga yang memiliki lebih dari satu istri, maka harus tinggal diluar kawasan tiga zona tersebut.

Setelah dijadikan desa wisata, ada konsekuensi yang harus diberikan kepada warga terutama untuk perawatan rumah. Menurut Giri Putra, hasil dari retribusi desa wisata tersebut 60% untuk pemerintah dan 40% dikembalikan lagi ke pengelola desa adat yang bisa digunakan untuk memberikan subsidi bagi warga yang membutuhkan serta biaya upacara keagamaan.

"Masyarakat di sini masih memegang tradisi adat, jadi desa ini sudah tertata seperti ini sejak jaman dahulu. Baru tahun 1998, pemerintah menetapkan Desa Penglipuran sebagai desa wisata," jelas pengelola Desa Penglipuran, I Nengah Moneng.

Meskipun di tengah modernisasi, tapi masyarakat setempat tidak tergerus oleh perkembangan jaman. Rumah-rumah yang dibangun masih mempertahankan tradisi meskipun sudah banyak yang berlantai keramik tapi tetap menggunakan atap sirap bambu. Kawasan desa ini juga tetap dijaga kelestarian dan kebersihannya, sehingga tidak heran jika tahun 2016 Desa Penglipuran ditetapkan sebagai salah satu dari tiga desa terbersih di dunia.

"Pengelola diberikan otonomi mengelola desa wisata dan kegiatan keagamaan," katanya.

Desa Penglipuran saat ini telah menjadi salah satu destinasi wisata di Bali, bahkan telah menjadi ikon wisata di Kabupaten Bangli. Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Desa Penglipuran mencapai sekitar Rp2,25 miliar tahun 2016 dan tahun ini ditargetkan sekitar sebesar Rp3,5 miliar.

Tahun 2016, jumlah wisatawan yang berkunjung mencapai 123.133 orang. Meskipun ditargetkan mampu memberikan kontribusi untuk pendapatan daerah, pengelola tetap mengutamakan konservasi dibandingkan bisnis.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas Protokol Pemerintah Kota Solo, Heri Purwoko mengatakan Kota Solo memiliki potensi mengembangkan kampung wisata seperti di Penglipuran.

"Di Solo ada Kampung Laweyan dan Kauman yang bisa dikembangkan seperti ini," ujarnya. ***

Endang Kusumastuti
Editor :
header-ad