logo

Jalur Sutra dan Nostalgia Asia-Afrika

Jalur Sutra dan Nostalgia Asia-Afrika

Seperti halnya KAA di mana Zhou Enlai berperan penting, Tiongkok lewat Presiden Xi Jinping kembali menciptakan “organisasi” baru, Belt and Road Initiative (BRI). Yaitu KTT “Jalur Sutra Kuno”.
18 May 2017 13:04 WIB

Oleh Sabpri Piliang

Sore 19  April 1955,  udara Bandung sangat dingin, menusuk tulang.  Kepala delegasi Tiongkok Zhou Enlai,   mengenakan baju tipis sambil melipat bagian ujung celana panjangnya. Berjalan ditepi jembatan, menyeberangi sungai kecil dengan gemericik air di hotel tempatnya menginap. Inilah kali pertama Zhou ke Bandung  untuk menghadiri  perhelatan persatuan bangsa-bangsa Asia Afrika  (KAA).

Tak ada yang menyangka, kalau kedatangan tokoh negara komunis yang oleh  Han Suyin, dalam bukunya “Eldest Son , The Making  of Modern China”,  diterbitkan oleh  Kodansa America Inc (New York) 1995 ini, hampir saja urung mengikuti KAA yang dihadiri oleh 29 kepala negara merdeka atau pun terjajah.

Zhou Enlai saat itu,  sangat disegani. Mungkin rasa hormat yang dimunculkan oleh negara Asia- Afrika yang miskin dan terjajah, melebihi kekaguman mereka kepada pemimpin tertingginya Mao Zedong. Selaku politikus berkarakter kuat , Zhou disebut-sebut sebagai pemimpin teladan, steril yang dalam dunia akademik, disebut steril “cum laude” atau sama sekali tak tersentuh oleh perilaku korupsi.

Kehadiran Tiongkok dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA), tahun 1955 sangat strategis. Negara Asia-Afrika yang sebagian besar miskin, terjajah, dan dipecah belah oleh keberadaan “Perang Dingin”, sangat antusias menyambut cikal-bakal kelahiran Gerakan Negara Non-Blok (GNB) ini. Selaku negara besar, sekalipun saat itu masih sangat miskin Tiongkok memberi arti penting hadir, untuk memberi “greget” isu yang bakal digulirkan.

Tiongkok yang saat itu belum memilki maskapai penerbangan,  mendapat jasa baik dari PM India Jawaharlal Nehru, dengan meminjamkan pesawat kehormatan Air India yang diberi nama “Kashmir Princess”.  Hampir saja,  intelektual revolusioner ini gagal hadir di Bandung, setelah pesawat yang akan ditumpangi oleh Zhou Enlai meledak di atas laut, tiga jam setelah terbang dari Bandara Kaitak (Hong Kong).
 
Naluri kuat Zhou Enlai selaku pemimpin masa depan Tiongkok akan bahaya,  akurat. Ancaman pembunuhan mengintainya. Menganggap begitu pentingnya Konferensi Asia-Afrika (KAA), Zhou tidak mengurungkan keberangkatannya ke Bandung, mengambil penerbangan “zig-zag”, dari Beijing (Peking)  menuju Yangon (dulu masih Rangoon), dan dari Rangoon Zhou menumpang pesawat komersial Belanda, KLM. Mendarat di Jakarta 16 April 1955, Zhou kemudian menjadi salah satu bintang yang menampung dan menerima serangan  isu selama KAA.

“Horison”  gemerlap  keberhasilan KAA 1955,  yang kemudian melahirkan sejumlah perjuangan dan kemerdekaan ekonomi  bangsa Asia-Afrika, Zhou  Enlai, pada “Ulang Tahun” Konferensi Asia-Afrika ke- 10, tahun 1965,  kembali mendatangi Indonesia. Dia bertemu dengan Presiden Soekarno,  untuk  mengajak kembali penyelenggaraan KAA lanjutan di Bandung. Namun, hal itu tidak pernah lagi terulang, hingga wafatnya tokoh rendah hati ini.

Tiongkok, Jepang, Arab Saudi, Thailand, Yordania,  Vietnam, Iran,  Filipina, kini merasakan betul konferensi Asia-Afrika 1955 memberi pengaruh luas terhadap pertumbuhan perekonomian mereka. Terutama Jepang yang dua hingga 10 tahun setelah KAA, negeri ini telah menjelma menjadi negara yang disebut “New Industrializing Countries” (NIC’s). Konsep “Dasa Sila Bandung” yang  di dalamnya mengandung diferensial-integral : pertukaran delegasi dagang, memperluas perdagangan,  dan memberikan bantuan teknik, telah membawa kemajuan dan lompatan besar, setelah menjadi negara miskin hingga awal 50-an.

Kemandiran yang juga merupakan bagian dari “out put” KAA, memberi inspirasi pada PM Jepang Hayato Ikeda dalam menerapkan konsep ekonomi “Keiretsu”,  yaitu  saling asah, asih, dan asuh, antara satu BUMN dengan BUMN lainnya, dengan tidak melepaskan saham perusahaan  di  luar lingkup mereka sendiri.

Memperkuat perekonomian nasional, sebagai bagian dari menjaga harkat dan martabat bangsa, terus diupayakan oleh para pemimpin Jepang dengan menggunakan alokasi devisa, lewat Gerakan Kebijakan Alokasi Devisa (GKAD). Pada pola ini, Jepang melakukan sistem kontrol impor yang dirancang untuk mencegah pasar Jepang dibanjiri oleh barang asing. PDB Jepang yang di era 60-an fantastis,  mencapai  91 miliar dolar AS, sementara Korea Selatan yang saat ini menjadi negara industri maju, PDB-nya hanya “seumprit” 79 dolar AS. Korsel pada waktu itu menjadi salah satu negara termiskin di dunia.

Mengambil pelajaran berharga dari Konferensi Asia- Afrika 1955, kemudian bangkit dengan inspirasi tuntutan kemandirian (Dasa Sila Bandung), Tiongkok  terus memperkuat pertaniannya dengan kebijakan desentralisasi, melepaskan diri dari ‘pakem’ ideologi negara yang sentralistik.  Selaku negara miskin, dan hingga 1983 angka pertumbuhannya masih sama dengan Indonesia 7 persen, Tiongkok kini   berlari kencang .

Seperti halnya KAA di mana Zhou Enlai berperan penting, Tiongkok lewat Presiden Xi Jinping kembali  menciptakan  “organisasi” baru, Belt and Road Initiative (BRI). Yaitu  KTT “Jalur Sutra Kuno”, yang baru saja selesai mengadakan konferensinya di Tiongkok (14-15 Mei). Dengan kelak melibatkan 68 negara,  beserta 40 persen Gross Domestic Product (GDP),  dalam tempo empat tahun BRI akan mampu mengatasi kebijakan baru Pemerintah AS yang lebih menerapkan kebijakan proteksionisme, dan mengabaikan  Globalisasi.

Selaku pioner, bersama-sama dengan India, Pakistan, Burma  (Myanmar), dan  Sri Lanka, Indonesia tentunya harus mampu mengikuti jejak dan upaya negara-negara  peserta KAA 1955, terutama Tiongkok dalam mengejar ketertinggalannya.    ***

* Sabpri Piliang: Wartawan suarakarya.id, Kolomnis, dan Pemerhati masalah Ekonomi-Politik Internasional. Lulus uji Kompetensi  PWI, serta Dosen pada perguruan tinggi di Jakarta.

RED
Editor :
header-ad