logo

LDP Punya Peran Penting Dalam Tangani Trauma Healing

 LDP Punya Peran Penting Dalam Tangani Trauma Healing

Kemampuan atau pendekatan trauma healing untuk korban bencana sosial lebih sulit dibanding LDP bagi korban bencana alam.
17 May 2017 21:14 WIB

JAKARTA (Suara Karya) : Pendekatan trauma healing untuk korban bencana sosial lebih sulit dibanding Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bagi korban bencana alam. Karenanya, kemampuan psikoterapi untuk pemulihan bencana sosial memerlukan pendekatan khusus berbasis kearifan lokal.

Demikian dikemukakan Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa, di sela-sela bimbingan teknis LDP, di Jakarta, Rabu (17/5). Diungkapkan lebih lanjut, LDP memiliki peran penting dalam memberikan trauma healing bagi korban terdampak bencana alam dan bencana sosial.

Dia menjelaskan, korban bencana sosial merupakan korban konflik sosial yang dilatarbelakangi banyak faktor. Saat ini, disebutkannya, sudah ada peta daerah rawan konflik sosial. "Dampak konflik sosial lebih panjang, jangan dilihat itu sebagai sesuatu yang kecil. Traumanya bisa turun temurun, apalagi berkaitan dengan ideologi," katanya.

Dampak konflik sosial, ujarnya, tidak hanya menghilangkan harta atau bahkan nyawa, namun sekaligus mengoyak persatuan dan kesatuan bangsa. Karenanya, menurut dia, dukungan psikososial untuk bencana sosial lebih berjangka panjang.

Untuk itu, tenaga psikososial harus jeli membaca situasi dan membangun jejaring dalam penyelesaian dan layanan sosialnya. Bahkan tenaga psikososial juga perlu membangun jejaring dengan lembaga eksekutif, yudikatif ataupun legislatif.

Tenaga psikososial perlu melakukan pengayaan, bangun jejaring dan kemitraan yang luas. Wajib pula memiliki sensivitas terhadap suatu kasus dan melihat kearifan lokal.

Di sisi lain, diingatkannya, perlu sensivitas tinggi bagi LDP dalam memberikan layanan psikososial. "Posisikan diri, kalau perlu di bawah korban bencana sosial. Jangan berada di atasnya," ujarnya.

LDP memberi layanan pada kaum rentan seperti anak-anak, lansia dan ibu hamil. Layanan ini juga berintegrasi dengan tugas taruna siaga bencana (Tagana) yang siap tiba satu jam di lokasi bencana. Saat ini dari sekitar 30.000 Tagana, baru 5.327 yang punya kemampuan layanan psikososial. (Busen)

Budi Seno P Santo
Wartawan Suara Karya sejak tahun 2005. Pernah meraih penghargaan jurnalistik M Husni Thamrin Award tahun 2008
Editor : Laksito Adi Darmono
header-ad