logo

High Carbon Stock (HCS) Approach Jadi Terobosan Upaya Lestarikan Hutan Tropis

High Carbon Stock (HCS) Approach  Jadi  Terobosan Upaya Lestarikan Hutan Tropis

Grant Rosoman memperkenalkan Toolkit Versi 2.0 kepada para tamu undangan.
Membiarkan deforestasi atau pembabatan hutan alam demi perkebunan sudah merupakan suatu hal di masa lalu. Hari ini, kami meluncurkan sebuah toolkit dengan metodologi yang memberikan panduan teknis yang praktis dan terbukti kuat secara ilmiah, untuk mengidentifikasi dan melindungi hutan alam tropis,” kata Grant Rosoman.
04 May 2017 11:15 WIB

JIMBARAN, Bali (Suara Karya): Tidak mudah mempertahankan hutan tropis di dunia, termasuk di Indonesia. Banyak kepentingan yang berbenturan dalam upaya melestarikan kekayaan alam yang menjadi "paru-paru" dunia  itu.

Baik kepentingan  dari sisi pemerintah negeri dimana hutan tropis itu berada, sisi dunia usaha yang terkait dengan hutan tropis,  sisi pemerintah  negara lain yakni negara maju atau negara  industri yang menggunakan produk dari hutan tropis, sisi sebagian lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang mungkin punya kepentingan tersendiri terkait lestarinya hutan tropis itu.

Benturan kepentingan itu menyebabkan terabaikannya  hutan tropis yang memiliki keragaman kehidupan terbesar di bumi dan sangat penting bagi jutaan penduduk asli dan masyarakat lokal. Mereka  bergantung pada hutan untuk penghidupan setiap harinya.

Tidak bisa dipungkiri, penghancuran terhadap hutan untuk dunia usaha seperti  perkebunan kelapa sawit, industri  kertas dan karet yang berdampak pada ancaman punahnya berbagai makhluk hidup ini,  merupakan sebuah bencana bagi masyarakat lokal,  dan berkontribusi pada perubahan iklim yang dahsyat.

Dalam kontek itulah, hari Rabu (3/5), di Jimbaran, Bali, sebuah metodologi gabungan baru yang berlaku secara global untuk melindungi hutan alam dan mengidentifikasi lahan-lahan yang dapat diolah sebagai areal produksi komoditas secara bertanggung-jawab, telah diluncurkan oleh koalisi antara industri dan Organisasi Non-Pemerintah (LSM). 

Metodologi itu adalah High Carbon Stock (HCS) Approach Toolkit Versi 2.0,  sebuah terobosan bagi berbagai perusahaan, masyarakat, institusi dan praktisi teknis yang memiliki komitmen bersama. Yakni komitmen untuk melindungi hutan alam sekunder yang tengah mengalami regenerasi, yang menyediakan cadangan karbon penting, habitat bagi keanekaragaman hayati dan mata pencaharian bagi masyarakat lokal.

 “Membiarkan deforestasi atau pembabatan hutan alam demi perkebunan sudah merupakan suatu hal di masa lalu. Hari ini, kami meluncurkan sebuah toolkit dengan metodologi yang memberikan panduan teknis yang praktis dan terbukti kuat secara ilmiah, untuk mengidentifikasi dan melindungi hutan alam tropis,” kata Grant Rosoman selaku Co-Chair dari High Carbon Stock (HCS) Steering Group, ketika memberi sambutan pada peluncuran metodologi itu.

 Lebih rinci disebutkan Grant Rosoman, HCS  Approach adalah sebuah metodologi yang dapat membedakan antara area-area hutan yang perlu dilindungi dengan lahan-lahan yang memiliki kadar karbon dan keanekaragaman hayati yang rendah, sehingga dapat diolah. 

           Terjamin Secara Ilmiah

Menurut Grant Rosoman, metodologi tersebut dikembangkan dengan tujuan untuk memastikan sebuah pendekatan yang praktis, transparan, kuat dan terjamin secara ilmiah, yang dapat diterima oleh kalangan luas untuk mengimplementasikan komitmen-komitmen dalam menghentikan penggundulan hutan tropis. Sekaligus menjaga agar hak-hak dan mata pencaharian masyarakat lokal tetap dihormati.

HCS Approach pada mulanya dikembangkan oleh Golden Agri-Resources (GAR), berkolaborasi dengan Greenpeace dan TFT pada tahun 2011-2012.

Versi pertama dari HCS Approach Toolkit sebelumnya telah dirilis pada April 2015. Versi baru yang telah disempurnakan yang dirilis Rabu (3/5)  telah meliputi penelitian ilmiah terbaru, evaluasi dari percobaan lapangan, serta topik-topik baru dan masukan-masukan dari berbagai kelompok kerja HCS Approach Steering Group, sebuah organisasi keanggotaan yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan yang mengatur HCS Approach. 

Toolkit baru ini juga menyajikan penyempurnaan, penambahan dan perubahan-perubahan penting pada metodologinya, sebagai hasil dari 'Kesepakatan Konvergensi' antara HCS Approach dan HCS Study, pada November 2016 lalu. 

Dengan telah dilengkapinya HCS Approach Toolkit Versi 2.0, HCS Steering Group saat ini dapat fokus pada uji coba metodologinya, agar dapat disesuaikan bagi para petani kecil, serta memperkuat persyaratan sosial yang dikembangkan sebagai bagian dari proses konvergensi HCS. 

Grant Rosoman menambahkan, sejak November 2016, HCS Approach mencakup konvergensi dengan HCS+ – artinya saat ini hanya ada satu metodologi HCS global. 

             Pendekatan Global

“Selama dua tahun, para pemangku kepentingan telah menyatukan berbagai upaya untuk menyepakati satu-satunya pendekatan global untuk menerapkan praktek Non-Deforestasi," kata Grant Rosoman.

Metodologi yang dihasilkan telah memperluas persyaratan sosialnya, pengenalan dan penerapan terhadap data cadangan karbon,yang mencakup teknologi baru, untuk mengoptimalisasi konservasi dan hasil produksi serta dapat diadaptasi bagi petani-petani kecil.

 "Koalisi yang unik ini telah bersatu, dalam menanggapi meningkatnya kekhawatiran akan dampak pembabatan hutan alam tropis terhadap iklim, satwa dan hak-hak masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hutan. 

"Kami menyambut positif atas diterapkannya metodologi ini dalam skala yang luas untuk mendukung hak-hak dan mata pencaharian masyarakat lokal, menjaga kadar karbon hutan dan keanekaragaman hayati serta kegiatan pengembangan terhadap lahan-lahan olahan secara bertanggung-jawab,” katanya. ***

Dwi Putro Agus Asianto -
Karir di Harian Umum Suara Karya sejak 1992. Email:dwiputro2014@gmail.com
Editor : Dwi Putro Agus Asianto -